
http://www.music.mahidol.ac.th/en/news_view.php?id=30
Guru musik? (seni), Ogah aaaah….. Akhirnya, sekolah pun kebingungan mencari guru musik, kemanakah “mereka”?, ngapain aja para pemusik hebat kita?, terutama yang memiliki dasar pendidikan musik formal maupun non formal?, rupanya, cukup banyak dari mereka TIDAK tertarik menjadi guru, kenapa? : tidak bisa? ataau tidak mau?
Jumlah guru seni (musik) di sekolah?
Bisa dibayangkan?, misalnya sebuah sekolah setingkat SMP/SMA – setiap tahunnya memiliki jumlah minimal murid antara 200 s/d 400 orang, dengan minat dan bakat seni yang berbeda, sedangkan mata pelajaran seni sendiri terbagi atas sejumlah bidang yang berbeda segi pendalamannya dengan bidang seni lainnya, antara lain : seni musik, tari, teater (drama), lukis, ukir, dll…
Nah, jika sebuah sekolah hanya memiliki guru musik, bagaimana satu orang guru musik ‘terpaksa’ menguasai semua bidang seni? demi memenuhi kebutuhan SDM anak dimasa mendatang, ini namanya ‘egois’ (entah siapa yang egois).
Akhirnya mereka yang memiliki pengetahuan seni / musik secara otodidak yang “merasa terpanggil”, akhirnya “dipakai” sebagai pengajar musik (seni) di sekolah-sekolah, semestinya, merekalah yang harus lebih dihargai. Why?, ya iya dong, merekalah yang lebih banyak melakukan sesuatu yang belum dilakukan di sekolah tersebut. Namun, apa yang terjadi?, apa alasannya?, ijazah dan akta mengajar?. Bahkan orang yang berijazah dan beraktapun belum tentu bisa mengajar lebih baik daripada mereka. Sementara menjadi seorang guru musik?, memiliki tuntutan yang sangat berat.
Read the rest of this entry »
Like this:
Be the first to like this post.