Simple Gift

Knowledge is not skill, knowledge plus 10.000 repetitions creates skill – (Sinichi Suzuki)

Archive for the ‘Testimony’ Category

Musiik???!!! Apakah Kamu Bisa Hidup Dengan Musik?

Posted by Ruland on 2 February 2011

http://www.kegworthmusic.com.au/

MUSIIK???!!! Apakah kamu bisa hidup dengan musik?

Sebenarnya ini merupakan kalimat seorang pastor berwarga negara belanda, yang di lemparkan keras kedalam kepalaku pada februari 1999…, ketika itu saya hanya membalas ucapannya dengan senyuman manis (sedikit dongkol), tetapi seiring berlalunya waktu, akhirnya saya memahami maksud beliau, sebab beliau seorang pecinta musik klasik, ungkapannya semata hanya untuk menguji kesungguhan hati, tentang apa yang saya inginkan.

Andapun tentu pernah menjumpai sejumlah ungkapan dengan makna yang tidak jauh berbeda dengan ungkapan diatas, seperti… ngapain kamu belajar musik? ; ngapain kamu belajar melukis? ; ngapain kamu belajar menari?, dsb; ataau, sejumlah pertanyaan menyangkut bidang seni lainnya yang sering diawali dengan kata : untuk apa?, pentingkah?… dsb.

Bahkan sekarangpun, masih banyak orang yang memiliki pemikiran diatas, seakan-akan bahwa pilihan seseorang itu salah, tidak bermutu, tidak bermanfaat/tidak berguna, dan lain sebagainya.

Akan tetapi, perlu disadari bahwa setiap ungkapan/pernyataan/ucapan, tentu memiliki alasan, apakah pada dasarnya mereka memang memandang seni hanya dengan ‘sebelah mata’, ataukah hanya sekedar menguji.

Read the rest of this entry »

Posted in Testimony, Tips Dan Motifasi | Tagged: , | 1 Comment »

Diskriminasi Dalam Bidang Seni (Musik)

Posted by Ruland on 10 December 2010

http://www.music.mahidol.ac.th/en/news_view.php?id=30

Guru musik? (seni), Ogah aaaah….. Akhirnya, sekolah pun kebingungan mencari guru musik, kemanakah “mereka”?, ngapain aja para pemusik hebat kita?, terutama yang memiliki dasar pendidikan musik formal maupun non formal?, rupanya, cukup banyak dari mereka TIDAK tertarik menjadi guru, kenapa? : tidak bisa? ataau tidak mau?

Jumlah guru seni (musik) di sekolah?

Bisa dibayangkan?, misalnya sebuah sekolah setingkat SMP/SMA – setiap tahunnya memiliki jumlah minimal murid antara 200 s/d 400 orang, dengan minat dan bakat seni yang berbeda, sedangkan mata pelajaran seni sendiri terbagi atas sejumlah bidang yang berbeda segi pendalamannya dengan bidang seni lainnya, antara lain : seni musik, tari, teater (drama), lukis, ukir, dll…

Nah, jika sebuah sekolah hanya memiliki guru musik, bagaimana satu orang guru musik ‘terpaksa’ menguasai semua bidang seni? demi memenuhi kebutuhan SDM anak dimasa mendatang, ini namanya ‘egois’ (entah siapa yang egois).

Akhirnya mereka yang memiliki pengetahuan seni / musik secara otodidak yang “merasa terpanggil”, akhirnya “dipakai” sebagai pengajar musik (seni) di sekolah-sekolah, semestinya, merekalah yang harus lebih dihargai. Why?, ya iya dong, merekalah yang lebih banyak melakukan sesuatu yang belum dilakukan di sekolah tersebut. Namun, apa yang terjadi?, apa alasannya?, ijazah dan akta mengajar?. Bahkan orang yang berijazah dan beraktapun belum tentu bisa mengajar lebih baik daripada mereka. Sementara menjadi seorang guru musik?, memiliki tuntutan yang sangat berat.

Read the rest of this entry »

Posted in Opini, Seni (Musik) dan Pendidikan, Testimony | Leave a Comment »

Ini Tantangan? atau Kutukan?

Posted by Ruland on 27 August 2010

http://blogs.ocweekly.com/navelgazing/music_teacher.jpg

Berapa banyak bidang seni yang ada? : musik, tari, ukir, lukis, peran (drama/teater), dsb (maaf, jika ada yang belum disebutkan). Dari kelima bidang yang disebutkan, jika kita mau membuka mata, maka setiap bidang ini memiliki keterkaitan tetapi juga bertolak belakang karena masing-masing bidang memiliki pendalaman ilmu yang berbeda.

Sebuah contoh dari bidang musik. Musik, memiliki beberapa penjurusan / pendalaman ilmu. Ada jurusan Aransemen dan Komposisi, Penyajian (performance), Musik Gereja, Musik Sekolah, dan lain sebagainya.

Penjelasan singkatnya : misalnya, seorang Penyaji Musik, dia mendalami tentang bagaimana menjadi pemain sebuah alat musik yang profesional, sehingga dapat menampilkan / menyajikan sebuah pertunjukan / konser musik yang berkualitas. Sedangkan seorang yang jurusannya Musik Gereja, salah satunya adalah mendalami tentang musik dan penggunaannya didalam sebuah liturgi (ibadah di gereja). Dan lain sebagainya.

Nah, sekarang kita kembali. Ada 5 bidang dengan 5 pendalaman ilmu yang berbeda. Berarti, minimal ada 5 guru yang dibutuhkan untuk satu sekolah. Pertanyaannya adalah :

  1. Read the rest of this entry »

Posted in Opini, Seni (Musik) dan Pendidikan, Testimony | Tagged: , | Leave a Comment »

Durasi Waktu Kursus 30 Menit, Cukupkah…?

Posted by Ruland on 4 May 2010

http://belajar-piano.com/tips/articles/membuka_kursus_baru.htm

Berapa lama durasi waktu les musik yang efektif?

“Selamat siaaang”, saya disambut sapaan lembut serta senyuman manis gadis cilik berusia sekitar 5 tahun. “Selamat siang juga dek” sapaku sambil membalas senyumnya, sembari “mengangguk” pada kedua orang tuanya. Pastinya mereka datang untuk meninjau kegiatan di tempat kursus kami (Jayapura), dan kelihatannya sedang memilah-milah intstrumen musik yang akan diikutkan pada sang anak?, vokal, keyboard, atau piano?

Setelah berkonsultasi dengan instruktur musik lainnya, tibalah giliran saya untuk melayani obrolan seputar piano. Dari sekian banyak obrolan kami, terdapat sebuah pertanyaan menarik untuk ungkapkan disini :

“ Pak, apakah 30 menit itu waktunya cukup untuk sekali pertemuan dalam tiap minggunya? ”

Sebagian besar pernyataan ini muncul dari para orang tua yang mengantarkan anaknya ke tempat kursus musik…, dan ini adalah realita yang dialami oleh hampir semua lembaga kursus musik di negeri tercinta kita ini, apalagi untuk daerah / kota dimana musik masih menjadi minoritas.

Pernyataan (pertanyaan) tersebut sering saya temui, tetapi ada yang lebih dahsyat lagi… pertanyaan serupa dengan durasi yang berbeda :

Read the rest of this entry »

Posted in Belajar Musik, Seni (Musik) dan Pendidikan, Seni (Musik) Dan Psikologi, Testimony | Tagged: , | 1 Comment »

Festival Band Tanpa Pemenang

Posted by Ruland on 7 December 2009

Adalah sebuah kisah dan kenangan (2006) semasa kuliah di FSP-UKSW Salatiga (JaTeng), program studi musik. Namanya saja mahasiswa musik, sudah tentu aktifitas bermain musik bersama sudah menjadi rutinitas. Saya dan beberapa teman, dalam sebuah ansambel musik (grup musik yang tidak memiliki nama karena memang senang berkumpul bersama) yang ternyata mendapat permintaan untuk mengisi acara pada sebuah festival band.

Festival band dengan genre musik bebas ini diselenggarakan oleh sebuah SMPN di Salatiga, dalam rangka memperingati ulang tahun sekolah, maka dibatasi hanya untuk tingkat SMP sampai SMA saja. Ansambel musik kami diminta berpartisipasi “untuk menjadi bintang tamu motifator bagi adik-adik yang sedang belajar musik”, begitulah kira-kira yang dikatakan oleh seorang guru, lewat salah satu teman kuliah saya yang pada waktu itu melakukan praktik kerja lapangan (PKL) di sekolah tersebut. Maka, kamipun mempersiapkan beberapa buah lagu (yang kuingat salah satunya milik Ungu – Seperti Yang Dulu, karena memiliki rekaman latihannya).

Menurut jadual, kami hanya akan mengisi setelah acara berakhir, yaitu pada saat juri mengadakan rapat penentuan pemenang. Bukan hanya sekedar mengisi acara, tetapi menurut rencana kami diminta memberi sepatah dua kata sebagai motifasi buat adik-adik pengisi acara maupun penonton.

Read the rest of this entry »

Posted in Testimony | Tagged: , | 3 Comments »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.