8 Poin Dalam Belajar Musik (Alat Musik)


DSCN6434Pertanyaan anda : Apakah aku bisa bermain alat musik ?

Pertanyaan saya – apakah anda mau bermain alat musik ?

Sempat pun menjadi pemikiran saya, bahwa bakatlah yang menentukan, tetapi dengan berlalunya waktu, perlahan hadir sejumlah pemikiran bahwa bakat bukanlah yang utama dalam menentukan apakah aku bisa bermain musik (bermain alat musik)? atau tidak – dalam berbagai alasan maupun situasi dan kondisi.

Kebanyakan kita berpikir bahwa hanya orang yang memiliki bakat saja yang dapat bermain musik dengan baik, atau… musik itu memerlukan bakat barulah bisa… Namun pada akhirnya saya berani menjamin bahwa ini merupakan pemikiran yang keliru, bakat adalah poin terakhir dalam bermusik, meskipun bisa menjadi yang pertama, tetapi bukan yang utama.

Lantas!, apa yang utama?

Terakhir kali saya berpikir, ada 8 poin yang hadir didalam benak… hmmmm tapi rasanya 8 poin ini berlaku untuk segala hal…

1. Kemauan (minat)

Anda mau atau tidak?, apakah suka atau tidak?, tertarik atau tidak? (…) ketika kita bisa menjawab hal ini dengan kata “YA”, maka haruslah didukung dengan tindakan. Tidak ada kemauan?, silahkan duduk manis.

Jika poin pertama ini saja sudah mendapatkan banyak alasan, mungkin anda tidak perlu melanjutkan membaca 🙂

Continue reading 8 Poin Dalam Belajar Musik (Alat Musik)

Advertisements

Musiik???!!! Apakah Kamu Bisa Hidup Dengan Musik?


DSCN6434MUSIIK???!!! Apakah kamu bisa hidup dengan musik?

Sebenarnya ini merupakan kalimat seorang pastor berwarga negara belanda, yang di lemparkan keras kedalam kepalaku pada februari 1999…, ketika itu saya hanya membalas ucapannya dengan senyuman manis (sedikit dongkol), tetapi seiring berlalunya waktu, akhirnya saya memahami maksud beliau, sebab beliau seorang pecinta musik klasik, ungkapannya semata hanya untuk menguji kesungguhan hati, tentang apa yang saya inginkan.

Andapun tentu pernah menjumpai sejumlah ungkapan dengan makna yang tidak jauh berbeda dengan ungkapan diatas, seperti… ngapain kamu belajar musik? ; ngapain kamu belajar melukis? ; ngapain kamu belajar menari?, dsb; ataau, sejumlah pertanyaan menyangkut bidang seni lainnya yang sering diawali dengan kata : untuk apa?, pentingkah?… dsb.

Bahkan sekarangpun, masih banyak orang yang memiliki pemikiran diatas, seakan-akan bahwa pilihan seseorang itu salah, tidak bermutu, tidak bermanfaat/tidak berguna, dan lain sebagainya.

Akan tetapi, perlu disadari bahwa setiap ungkapan/pernyataan/ucapan, tentu memiliki alasan, apakah pada dasarnya mereka memang memandang seni hanya dengan ‘sebelah mata’, ataukah hanya sekedar menguji.

Continue reading Musiik???!!! Apakah Kamu Bisa Hidup Dengan Musik?

Katanya Seni Adalah Penyeimbang Dalam Pendidikan, Benarkah?


Seni, sudah sering digembar-gemborkan para ahli pendidikan sebagai penyeimbang didalam pendidikan / kegiatan belajar dan mengajar (KBM), (dengan judul pelajaran : Seni dan Budaya), benarkah?

Ada dua buah pertanyaan :

  1. Apakah kita sungguh memahami arti kata tersebut (penyeimbang)?
  2. Apakah Seni dan Budaya sudah menyeimbangkan?

Yaah …. lagi-lagi ‘kata’, yaaaa maap, ini kan berkaitan dengan tata bahasa yang baik dan benar, dan makna yang terkandung dalam sebuah ‘kata’ hehehehe

Continue reading Katanya Seni Adalah Penyeimbang Dalam Pendidikan, Benarkah?

Hiburan dalam Pendidikan atau Pendidikan dalam Hiburan?


http://www.simplifythis.com/blog/small-business/online-invoicing-and-appointment-scheduling-for-music-teachers/

Musik (Seni) dalam Pendidikan? atau Pendidikan dalam Musik (Seni)?

Minat dan Bakat dalam Pendidikan? atau Pendidikan dalam Minat dan Bakat?

Hiburan dalam Pendidikan? atau Pendidikan dalam Hiburan?

Continue reading Hiburan dalam Pendidikan atau Pendidikan dalam Hiburan?

Diskriminasi Dalam Bidang Seni (Musik)


CropGuru musik? (seni), Ogah aaaah….. Akhirnya, sekolah pun kebingungan mencari guru musik, kemanakah “mereka”?, ngapain aja para pemusik hebat kita?, terutama yang memiliki dasar pendidikan musik formal maupun non formal?, rupanya, cukup banyak dari mereka TIDAK tertarik menjadi guru, kenapa? : tidak bisa? ataau tidak mau?

Jumlah guru seni (musik) di sekolah?

Bisa dibayangkan?, misalnya sebuah sekolah setingkat SMP/SMA – setiap tahunnya memiliki jumlah minimal murid antara 200 s/d 400 orang, dengan minat dan bakat seni yang berbeda, sedangkan mata pelajaran seni sendiri terbagi atas sejumlah bidang yang berbeda segi pendalamannya dengan bidang seni lainnya, antara lain : seni musik, tari, teater (drama), lukis, ukir, dll…

Nah, jika sebuah sekolah hanya memiliki guru musik, bagaimana satu orang guru musik ‘terpaksa’ menguasai semua bidang seni? demi memenuhi kebutuhan SDM anak dimasa mendatang, ini namanya ‘egois’ (entah siapa yang egois).

Akhirnya mereka yang memiliki pengetahuan seni / musik secara otodidak yang “merasa terpanggil”, akhirnya “dipakai” sebagai pengajar musik (seni) di sekolah-sekolah, semestinya, merekalah yang harus lebih dihargai. Why?, ya iya dong, merekalah yang lebih banyak melakukan sesuatu yang belum dilakukan di sekolah tersebut. Namun, apa yang terjadi?, apa alasannya?, ijazah dan akta mengajar?. Bahkan orang yang berijazah dan beraktapun belum tentu bisa mengajar lebih baik daripada mereka. Sementara menjadi seorang guru musik?, memiliki tuntutan yang sangat berat.

Continue reading Diskriminasi Dalam Bidang Seni (Musik)

Ini Tantangan? atau Kutukan?


Question mark 2.jpgBerapa banyak bidang seni yang ada? : musik, tari, ukir, lukis, peran (drama/teater), dsb (maaf, jika ada yang belum disebutkan). Dari kelima bidang yang disebutkan, jika kita mau membuka mata, maka setiap bidang ini memiliki keterkaitan tetapi juga bertolak belakang karena masing-masing bidang memiliki pendalaman ilmu yang berbeda.

Sebuah contoh dari bidang musik. Musik, memiliki beberapa penjurusan / pendalaman ilmu. Ada jurusan Aransemen dan Komposisi, Penyajian (performance), Musik Gereja, Musik Sekolah, dan lain sebagainya.

Penjelasan singkatnya : misalnya, seorang Penyaji Musik, dia mendalami tentang bagaimana menjadi pemain sebuah alat musik yang profesional, sehingga dapat menampilkan / menyajikan sebuah pertunjukan / konser musik yang berkualitas. Sedangkan seorang yang jurusannya Musik Gereja, salah satunya adalah mendalami tentang musik dan penggunaannya didalam sebuah liturgi (ibadah di gereja). Dan lain sebagainya. Continue reading Ini Tantangan? atau Kutukan?

Durasi Waktu Kursus 30 Menit, Cukupkah…?


CropBerapa lama durasi waktu les musik yang efektif?

“Selamat siaaang”, saya disambut sapaan lembut serta senyuman manis gadis cilik berusia sekitar 5 tahun. “Selamat siang juga dek” sapaku sambil membalas senyumnya, sembari “mengangguk” pada kedua orang tuanya. Pastinya mereka datang untuk meninjau kegiatan di tempat kursus kami (Jayapura), dan kelihatannya sedang memilah-milah intstrumen musik yang akan diikutkan pada sang anak?, vokal, keyboard, atau piano?

Setelah berkonsultasi dengan instruktur musik lainnya, tibalah giliran saya untuk melayani obrolan seputar piano. Dari sekian banyak obrolan kami, terdapat sebuah pertanyaan menarik untuk ungkapkan disini :

“ Pak, apakah 30 menit itu waktunya cukup untuk sekali pertemuan dalam tiap minggunya? ”

Sebagian besar pernyataan ini muncul dari para orang tua yang mengantarkan anaknya ke tempat kursus musik…, dan ini adalah realita yang dialami oleh hampir semua lembaga kursus musik di negeri tercinta kita ini, apalagi untuk daerah / kota dimana musik masih menjadi minoritas.

Pernyataan (pertanyaan) tersebut sering saya temui, tetapi ada yang lebih dahsyat lagi… pertanyaan serupa dengan durasi yang berbeda :

Continue reading Durasi Waktu Kursus 30 Menit, Cukupkah…?