Festival Band Tanpa Pemenang

Adalah sebuah kisah dan kenangan (2006) semasa kuliah di FSP-UKSW Salatiga (JaTeng), program studi musik. Namanya saja mahasiswa musik, sudah tentu aktifitas bermain musik bersama sudah menjadi rutinitas. Saya dan beberapa teman, dalam sebuah ansambel musik (grup musik yang tidak memiliki nama karena memang senang berkumpul bersama) yang ternyata mendapat permintaan untuk mengisi acara pada sebuah festival band.

Festival band dengan genre musik bebas ini diselenggarakan oleh sebuah SMPN di Salatiga, dalam rangka memperingati ulang tahun sekolah, maka dibatasi hanya untuk tingkat SMP sampai SMA saja. Ansambel musik kami diminta berpartisipasi “untuk menjadi bintang tamu motifator bagi adik-adik yang sedang belajar musik”, begitulah kira-kira yang dikatakan oleh seorang guru, lewat salah satu teman kuliah saya yang pada waktu itu melakukan praktik kerja lapangan (PKL) di sekolah tersebut. Maka, kamipun mempersiapkan beberapa buah lagu (yang kuingat salah satunya milik Ungu – Seperti Yang Dulu, karena memiliki rekaman latihannya).

Menurut jadual, kami hanya akan mengisi setelah acara berakhir, yaitu pada saat juri mengadakan rapat penentuan pemenang. Bukan hanya sekedar mengisi acara, tetapi menurut rencana kami diminta memberi sepatah dua kata sebagai motifasi buat adik-adik pengisi acara maupun penonton.

Acara baru dimulai jam 12.00 wit. Sekitar 30 menit kemudian, dari kampus kami langsung menuju tempat pentas, tidak jauh sih dari kampus, kira-kira sekitar 2 kilo. Sesampainya di TKP, kami dipersilahkan duduk disebuah tenda, pada tempat yang memang sudah dipersiapkan kami, dan juga untuk penonton.

Acara berlangsung sangat ramai. Festival ini ternyata diselingi dengan fashion show dan tari kontemporer oleh siswa/i sekolah penyelenggara. Sebenarnya cukup membosankan juga, tetapi senang karena melihat kreasi-kreasi yang menarik para siswa/i.

Melihat jalannya acara yang sebentar lagi usai, kami merasa perlu memperisapkan diri, maka kamipun meminta ijin menggunakan sebuah ruang kelas untuk berlatih sejenak.

Sekitar pukul 14.00, kira-kira grup band keempat (dihitung dari band terakhir), ternyata membawakan 2 buah lagu reggae…, membuat suasana semakin ramai dan kepanasan… karena semua penonton berpartisipasi didepan panggung, bergoyang mengikuti irama reggae

Lagu reggae pertama ternyata memancing pihak luar (yang mendengar) untuk turut berpartisipasi. Setelah kedua lagu selesai dibawakan, terjadi sedikit kericuhan diantara penonton, yang bersikeras ingin terus bergoyang tetapi tidak diperbolehkan oleh juri. Diantara penonton, terdapat beberapa anak berpakaian bebas yang ternyata merupakan alumni SMP tersebut, barbau alkohol…, hal ini memancing kemarahan guru, yang pada akhirnya terjadi keributan besar karena tambahan suara sumbang (entah oleh siapa) yang mengatakan “acara tidak boleh dilanjutkan”.

Mendengar kericuhan, kami yang sedang berada di ruang kelaspun mengintip…

Tidak tau siapa yang memulai, ada seseorang…entah siswa/bukan, yang tidak berseragam sekolah, ditempeleng (oleh guru? atau juri? saya kurang paham), tambah hancurlah keadaannya…, beliau hampir saja dikeroyok, tapi kemudian lolos dan mengamankan diri, dan pihak keamanan sekolahpun segera menertibkan keadaan.

Acarapun tertunda sekitar satu jam, dengan benar-benar terpaksa… pihak sekolah memutuskan bahwa acara tidak dilanjutkan karena beberapa alasan. Kasihan grup-grup band undian terakhir yang tidak sempat unjuk gigi, begitupun dengan kami hehehe… capee deeeh…

Rasa kesal, bosan dan lelah karena telah menunggu selama dua jam sirna begitu saja karena kejadian ini, akhirnya kamipun pulang tanpa memberikan sesuatu untuk mereka, melainkan pulang dengan membawa sebuah pengalaman berharga (bagiku).

3 thoughts on “Festival Band Tanpa Pemenang”

  1. Haloo..Rulland, setelah membaca tulisanmu di web ini saya tertarik untuk memberikan tanggapan atas kejadian yang kamu alami. secara umum berlaku di masyarakat bahwa orang yang belajar “kuliah” du musik dianggap bisa segala jenis musik! ini tantangan atau kutukan ya hhehe….dan..ini celakanya…mayoritas masyarakat kita lebih suka goyang dulu daripada mencermati serta mengapresiasi musik dengan pasif, jadi begitu tidak sejalan dengan keinginan yang muncul hanya emosi. Ini tugas kita sebagai insan musik untuk meberikan pembelajaran kepada masyarakat mengenai kebiasaan mengapresiasi musik dengan baik dalam sebuah perhelatan konser musik, apapun genrenya.

    selamat berjoang.

    1. 😀 Salam Pak Paulus…. trims udah mampir…

      Hehehe sy sangat-sangat sependapat dengan pak….
      Tantangan juga kutukan hahaha dan score sementara mungkin 50-50😀 … adapun kesadaran masyarakat tentang “musik” masih minim, ini juga berkaitan erat dengan pendidikan musik di negara kita…
      Betul sekali pak, sekarang memang ini menjadi tugas utama semua insan musik…

      Makasih pak.

Salam Hormat...., Jika teman-teman ingin merespon atau bertanya, mohon sopan santun serta tata krama dalam menulis yaaah :) , terima kasih atas kunjungannya, semoga bermanfaat.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s