Apakah Kita Menyukai Musik?

” Kalau susah tidur, saya akan mendengarkan musik supaya bisa mengantuk ;

Ooh jangan salah ya, saya pendengar setia musik klasik di radio ;

Sekarang ini saya sedang mendalami musik di… ;

Oooh saya suka banget kok sama musik. “

Tapiii . . . apa itu musik?

Musik diartikan sebagai nada atau suara yang disusun sedemikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan (terutama yang menggunakan alat-alat yang dapat menghasilkan bunyi-bunyi itu). Namun, musik itu sendiri merupakan ilmu atau seni menyusun nada atau suara dalam suatu urutan, kombinasi, dan hubungan temporal untuk menghasilkan komposisi (suara) yang mempunyai kesatuan dan kesinambungan.

Disini jelas, bahwa untuk membuat sebuah musik yang berkualitas, tidak hanya dibutuhkan bakat dan pengalaman, tetapi juga ilmu, apakah ilmu itu diperoleh secara formal, non formal ataupun otodidak.

Kita semua pasti pernah atau memang mengakui bahwa kita menyukai musik, terlebih untuk mereka yang memiliki pendidikan formal dibidang musik, atau juga mereka yang mengaku bahwa kami adalah musisi, dan lain sebagainya. Bahkan, ada yang rela tidak tidur semalaman hanya untuk mendownload mp3 karya-karya musik yang sangat disukai bahkan mungkin dicintainya. Apakah benar ini yang dinamakan bahwa kita benar-benar menyukai musik?

Kalau benar kita sangat menyukai atau mencintai musik, seharusnya kita menghargai musik itu sendiri bukan?, apakah kita sudah menghargainya?, saya rasa belum, bahkan mungkin juga tidak. Yaa!!, ‘ngakunya suka, tapi tidak mau menghargai pahit getirnya mereka yang membuat musik itu terdengar indah di telinga kita, sampai membuat kita dapat tidur terlelap.

Tapi yaaah… inilah dilema kehidupan, saya rasa baik juga untuk kita renungkan bersama🙂.

Salam

12 thoughts on “Apakah Kita Menyukai Musik?”

  1. apa kabar bung rulland🙂..semoga anda sehat, dan terus mengembangkan gagasan kreatif edukatif dalam bidang musik
    sekian lama pembicaraan ini tidak berlanjut…

    saya tetap mempermasalahkan diam dalam musik, sebenarnya tidak pernah terjadi..
    saya mengutip cara berfikir einstein waktu dia masih bocah dan memprotes pemikiran seorang profesor.

    dengan itu saya meyimpulkan bahwa : “diam sebenarnya tidak ada, yang ada hanyalah ketiadaan bunyi”

    oia bung, saya punya stradivarious 1737 (labelnya asli)..kapan-kapan buat artikel ttp stradi dong..

    thanks

  2. setahun baru bales lg hehe…saya ketiduran mas ruland😀
    maksud saya ending itu bukan “akhir sebuah lagu”, ending dalam bahasa saya hanya berupa kiasan (ending = hancurnya semesta), bahwa bunyi itu tidak pernah benar2 berhenti, coba tunjukan kapan bunyi di dunia ini benar2 berhenti..!!!!berasal darimana bunyi itu???dari getaran kan??hanya saja frekuensinya berada pada batas pendengaran, sekarang tunjukan kapan seluruh semesta ini berhenti membuat getaran??
    ketika kita merasakan sensasi sunyi (yg kita sebut tidak ada suara) sebenarnya bunyi tetap terjadi hanya saja barada diluar jangkauan kemampuan dengar kita, ngeri kalo benar2 sunyi..detak jantung mau dikemanakan????..hehehe

    ya dengan kata lain coda pun hanya istilah untuk mempertegas penjelasan ending diatas, bahwa tidak pernah terjadi diam sesaat dalam musik,,karena bagi saya musik hanyalah permainan bunyi dan “diam” dalam ruang dan waktu,,diamnya saya kasih tanda kutip, karena diam sebenarnya hanya berupa sensasi semata dan tidak benar2 terjadi….lho??

    misal kita lagi maen biola, kemudian ada bagian dengan tempo rubbato dan banyak terdapat tanda diam, seolah2 benar saja kita diam ketika memainkan bagian itu, padahal diluar si “doggy” lagi guk guk guk…lha dimana diamnya???hehhe
    atau lagi upacara di SD,,”hiduplah indonesia raya..tu..dua..”…nah loh, kan bagian “tu..dua” harusnya gak ada bunyi…trus sang konduktor mengulangnya “hiduplah indonesia raya … (ngeooooong motor 2 tax lewat) …. “..padahal tu motor jauh, tp tetep kedenger…

    nah dari penjelasan di atas, semoga mas rulan bisa memahami maksud filosofis saya
    saya mencintai musik, saya juga sangat mencintai stradivarious saya..hanya saja dengan cara yg sangat berbeda dengan kbanyakan orang🙂

  3. jujur mas ruland blog anda sangat menarik buat saya, rasanya saya mendapat sebuah hak bicara ditengah sebuah kontemplasi😀
    sebelumnya maaf nada bicara saya agak ceplas ceplos mas (mohon dimaafkan ya🙂 ), tapi sbenarnya saya orangya baik lho..hehe🙂
    prolog :
    (saya dulu sempet belajar musik, tapi berujung menjadi orang stress yg tersudutkan dintara dua keharusan, disatu sisi saya harus memperdalam ilmu musik disisi lain terkadang saya muak dengan persepsi kebanyakan orang dalam memandang musik dan mau tidak mau saya harus menerima itu ..kemudian setelah dihimpit dari kedua sisi saya ditekan dari bagian atas oleh “sebuah Kebenaran hakiki” yang memposisikan “musik” dalam langkah saya sebagai seorang muslim..dilematis hiks hiks)

    intinya gini mas saya kurang setuju dengan pendapat mas di atas : Musik diartikan sebagai nada atau suara yang disusun sedemikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan (terutama yang menggunakan alat-alat yang dapat menghasilkan bunyi-bunyi itu). Namun, musik itu sendiri merupakan ilmu atau seni menyusun nada atau suara dalam suatu urutan, kombinasi, dan hubungan temporal untuk menghasilkan komposisi (suara) yang mempunyai kesatuan dan kesinambungan.

    klo menurut saya musik itu : hanyalah permainan unsur semesta yakni BUNYI dan DIAM dalam RUANG dan WAKTU, tidak lebih dari itu, unsur bunyi ada 4 dan unsur diam mutlak 1 dam sejatinya musik tak pernah menemui ending dan coda selama semesta masih dijaga sang pencipta…wah masih panjang pkonya..itu seeh menurut saya mas🙂

    wuih aneh ya kta2nya hahaha…jgan diambil hati ya mas🙂

    1. Makasih mas…🙂
      😀 Memang benar bahwa musik tidak pernah menemui akhir, karena jaman terus berubah, dan musik adalah masalah rasa yang hanya dapat dirasakan dan dimengerti oleh setiap individu dengan cara yang berbeda.
      Sebenarnya apa yang saya tulis mengenai definisi musik rasanya sudah merangkul apa yang mas Budiawan katakan.

      Karena “BUNYI” tidak selamanya akan terus berbunyi, ada waktunya untuk dia berhenti, apakah itu hanya sesaat (DIAM), ataukah mengalami sebuah klimaks yang kadangkala terdapat pada sebuah CODA, atau benar-benar berhenti (ENDING, atau DIAM). Semua ini berada didalam satu “RUANG” yang disebut sebagai Komposisi Musik.

      Jika didalam sebuah komposisi musik tidak diberikan sebuah “nama” untuk mengakhiri sebuah bunyi (lagu/musik), yang disebut dengan ending, maka kasihan sekali pemain musiknya hehehe, dan itulah gunanya salah satu ilmu yang dipelajari di dalam musik, sehingga kita tahu bagaimana “… menyusun nada atau suara dalam suatu urutan, kombinasi, sehingga menghasilkan komposisi yang mempunyai kesatuan dan kesinambungan (Soeharto, M. Kamus Musik. Jakarta : PT Gramedia. 1992)”.

      1. iya mas saya faham (setahun baru faham hehehe, maaf ya mas ini sebenarnya pemahaman filsafat yg sy kembangkan sendiri, abis stress dengan istilah musik yg ada)
        ending dalam sebuah komposisi hanya berakhir untuk sensasi bunyi dalam komposisi itu..dan “pemainan bunyi” (bagi saya musik) tidak berakhir disitu, kan abis konser itu komposisi para apresiator tepuk tangan, terus mc komen bla bla bla,,terus dilanjutkan karya selanjutnya, terus udahan, plok plak tuk..riuh bunyi kaki para pengunjung meninggalkan gedung, jauh diluar sana bunyi bom meledak..terus simultan bunyi yg tak terhenti
        jadi bagi saya musik (karunia bunyi)itu tidak pernah menemui ending, kecuali end of days hehehe
        (bagi yg baca komen saya jangan terlalu diambil hati, ini kan hanya buah pemikiran seseorang yg juga mencintai musik, hanya saja caranya nyeleneh hehehe🙂 )

  4. Dilema kehidupan..

    Benar juga.. Mungkin maksudnya pembajakan ya?

    Sebenarnya saya sangat menyukai musik, tapi apa artinya suka jika tidak bisa memainkan 1 pun alat musik😀

    Setiap ngelihat orang yang memainkan alat musik dengan bagus dan indahnya pasti langsung tercengang, dan mengatakan kapan giliran saya heheheheheh

    Duh, kok jd curhat ya😀

    Mudah2an one day I will🙂

    Anyway, bagus bgt Blogny, mudah2an visi dan misi Blog ini bisa tercapai ya🙂

    1. hehehe iya Bu, maksudnya pembajakan…, emang dilema kehidupan, saya nulisnya juga buat diri sendiri…. karena termasuk salah satunya🙂

      :)hmm…. sama aja kok bu, kalau lihat orang lain main biolanya bagus, saya juga ngomongnya sama, kapan giliran saya ya🙂
      😀
      ‘Suka’ dapat berbentuk kagum
      namun ‘suka’ tidak dituntut ‘bisa’
      ‘Bisa’ tidak selamanya ‘suka’
      ‘bisa’ tidak mesti dalam tindak
      tapi ‘bisa’ selalu tinggal dalam hati
      ‘Bisa’ tidak harus dari kita
      tapi ‘bisa’, dapat lewat penerus kita
      😀 trims Bu Lindra…

      Amin…

      1. Hahahha,

        kalau masalah membajak saya juga include Pak hehheeheheh😀

        Kalau dari penjelasan di atas sepertinya saya termasuk kategori ‘Kagum’ nih…
        Apa aq hanya sekedar pengagum ya (seperti lagu aja y hehehehe)
        Bener juga sih, kalau emg kitanya gk bisa mudah2an aja ntar penerusny bisa ya… hehheheh Amin….🙂

        Anyway, saya boleh di panggil dengan Lindra kok, krn saya belum ibu2 jg heheheheheh

        Tq

        1. 😀

          Keinginan tersembunyi orang tua kadang atau malah sering turun pada anaknya🙂 Amin
          oke bu Lindra…🙂 eh maap salah😀 baik Lindra… eh saya tambahin “kak” aja ya… biar sopan.., soalnya sy juga belum bapak🙂

          1. Amin….

            Kayany enakan panggil Lindra aja🙂

            so, how should I call u sir?

            So that, ntr gak canggung kalau mau nanya2 atau buat komen🙂

            Tq

            1. 😀 baiklah….,
              hehe iya ya, soalnya nama panggilan saya cukup bervariasi😀
              Ellet or Ruland aja deh, no problem, mana yang dirasa sesuai … atau mana yang paling cepat kalau diketik hehe🙂 tidak perlu canggung… i’m opened for everyone… welcome😀

Salam Hormat...., Jika teman-teman ingin merespon atau bertanya, mohon sopan santun serta tata krama dalam menulis yaaah :) , terima kasih atas kunjungannya, semoga bermanfaat.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s